Skip to main content

LGBT: Loe Gowes [bersepeda nanjak] Bikin Tepar









LGBT: Loe Gowes [bersepeda] Bikin Tepar aja…hahaha

Dasar #LGBT…Loe Gowes Bikin Tepar…[*arti: Kamu Ngajak Bersepeda Bikin Lelah] itulah kata-kata yang keluar dari candaan teman-teman waktu kita bersepeda bareng ini. Bukan arti LGBT: Lesbian, Gay…etc… yang sesungguhnya. Judul tulisan ini dibuat maksa banget bikin seru aja momen ini bertepatan dengan yang lagi jadi bahan pembicaraan masyarakat dunia. Ingat bro jangan pernah mencoba ataupun ikut jadi pelaku nya ya, ini sangat tidak baik dan melanggar norma sosial & agama “khusus nya” di Negara kita Indonesia. Ahh...sudahlah kita abaikan masalah "LGBT" ini kembali ke yang wajar-wajar saja kita bahas cerita bersepeda ya…smile emoticon.




Sabtu pagi 15 orang rider telah sepakat untuk kumpul sama-sama di sebuah tempat yaitu Ruko Bakmi Golek di daerah Sentul City, Bogor, Jawa Barat. Sangat istimewa dari ke-15 orang ini 2 diantaranya expatriate asal Japan yaitu Mr. Fu & Mr. Kim dengan roadbike nya akan ikut bergabung bersepeda dengan kami. Lebih istimewa lagi “marshall” atau guide sepeda kami kali ini adalah seorang wanita perkasa yang “doyan” nanjak yaitu Tante Sanny Sunter, beliau sudah “khatam" luar kepala area-area tanjakan mana yang assoy buat di nikmati sambil tertunduk-tunduk kepala karena tingkat vertical climb nya lumayan menguras tenaga & stamina.




Sentul City [Nama perumahan mewah] adalah sebuah lokasi yang terletak di wilayah kota Bogor, dapat di jangkau dengan akses jalan tol Bogor-Jakarta. Yang tinggal di wilayah Jabodetabek pasti sudah sangat faham sekali daerah ini. Wilayah ini berada di perbukitan sehingga banyak sekali terdapat jalur tanjakan on road yang sangat menantang untuk dilintasi dengan sepeda. Yang paling terkenal adalah tanjakan KM.0 Sentul [buat goweser luar Jakarta harus di agenda kan main ke lokasi ini…terutama khusus yang suka nanjak] biasanya para pesepeda memulai start dari sebuah ruko yang menyediakan lahan parkir & tempat unloading sepeda.

Dari Ruko ini jalur menuju KM.0 terdapat 2 alternative yaitu via Bojong Koneng 11,5KM & Via jalur Rainbow Hill 15,5KM, dengan perbedaan elevasi dari 207mdpl ke 660mdpl. Jalur ini adalah jalan asphalt onroad. Bojongkoneng lebih pendek otomatis tingkat vertical climb nya lebih curam/tinggi, sedang jalur Rainbow Hill jalur lebih panjang, lebih datar & berasa kurang nendang tanjakanya kata Tante Sanny…hihihi [karate kali nendang…ada-ada aja istilahnya]








Kami telah sepakat untuk memilih jalur yang “nendang” banget tanjakanya yaitu KM.0 via Bojongkoneng seperti sudah hafal tiap jengkal jalanan Nte Sanny langsung tancap pedal ngacir memimpin di depan [*beliau pernah turun naik sampai 5X di tanjakan ini “biar capek om” katanya…apaaa?...aku pingsan…] terdapat beberap segment di tanjakan ini gak usahlah di bahas yang jelas setelah melewati kampung terdapat view yang indah pemandangan sawah & perbukitan di sebelah sisi kanan kita.

Jangan tanya gimana kita melewatinya ya…beberapa segment kita sikat dengan ber TTB ria [Tuntun Bike]. Lantas gimana nasib goweser expat kita mereka berdua lolos genjot terus tanpa TTB dengan roadbike nya, sangat enjoy dan menikmati sekali beberapa kali break mereka hanya mengeluh karena cuaca yang sangat panas bagi mereka. Biasa gowes di Negara Japan dengan 4 musim pasti adem banget kali ya di negara mereka, ketika break di warung mereka makan es krim entah habis berapa…biar adem katanya…Haik dozzo, arigatou…! [monggo silakan saja mas Bro…hahaha]







KM.0 sendiri adalah sebuah tugu/pathok peringatan/tanda yang bertuliskan angka 0,
entahlah kurang faham juga ini hitungan 0 darimana yang jelas terdapat beberapa warung makan & parkiran sepeda dilokasi ini. Kami sarapan dulu sambil regrouping karena bebebara teman masih tercecer di belakang belum mencapai finish. Ahoooy...beres dari tanjakan yang bikin tepar ini trek berikutnya adalah turunan kita ambil via Rainbow Hill kemudian turun terus menuju pertigaan di sebuah kampung yang menuju Gunung Geulis...namanya juga Gunung pastilah lebih naik alias tinggi…hihihi…siap-siap Tepar berikutnya…hahaha…ngakak emoticon.






Jalur ke Gunung Geulis ini sangat bervariasi antara tanjakan & turunan, secara jalur juga melewati area blusukan namun masih rideable menggunakan roadbike. Melewati jalan kampung masuk ke perumahan bahkan melintasi pinggir jalan tol Bogor-Ciawi. Pintar sekali Nte Sanny memilih jalur yang kita lewati kontur nya tetap lebih dominan tanjakan namun tidak securam jalur ke KM.0 dan beberapa bagian terdapat bonus turunan yang sangat mengasyikan.

Akhir dari jalur ini adalah sebuah tempat Warung Makan EVA dimana biasanya goweser berkumpul untuk istirahat sekedar ngopi atau makan siang. Letaknya di sebuah lokasi sebelum memasuki sebuah Golf Course & Resort Gunung Geulis. Darisini kita bersepeda melintasi padang golf yang lumayan mewah & megah pemandangan di sisi sebelaha kiri sangat bagus menampilkan perbukitan, pemandangan bagus lainya adalah para “caddy” golf yang berpakain sangat ketat, warna-warni & seksi yang mengikuti tuan-tuanya bermain olahraga bergengsi,mahal & paling gila…hahaha [Olahraga kok semua serba minta dilayani kapan dapat keringatnya bro…ahahaha…ngakak emoticon]




Setelah melewati Golf Course tembus ke sebuah jalan kampung yang terus turunan konturnya, lantas tembus ke jalan raya utama Sentul City lalu menuju arah Ruko tempat kami start, jadi kita memutari area tersebut total jarak tempuh 29,5KM [maaf ga ada link strava nya…HP ketinggalan, lupa bawa…hahaha]. Setelah "cooling down" kita ngobrol-ngobrol sambil beberapa teman membongkar sepeda untuk dimasukan kembali ke mobil lalu pulang kembali ke rumah masing-masing.

Terimakasih semuanya sampai jumpa di trek selanjutnya ya…awas jangan sampai LGBT: Loe Gowes Bikin Tepar lagi ya…hahaha.

Tetap semangat & sehat dengan bersepeda, salam @nardex

Popular posts from this blog

ENDURO RACE di KTH Bikepark Puncak Bogor

   Starting point Bukit Pano'ongan   Suasana di Start Point ENDURO Sebuah genre baru  balap sepeda Saat ini genre Enduro berkembang pesat & sangat digemari oleh para pencinta olahraga Mountainbike. What is Enduro? Istilah Enduro awalnya adalah sebuah genre olahraga dari Motorbike yaitu sebuah lomba long distance cross country yang terbagi dalam beberapa stage kemudian dihitung overall total waktu keseluruhan dari stage yang dilombakan pemenangya adalah yang bisa menyelesaikan waktu tercepat. Enduro di Mountain bike jika tidak salah awal mulanya di selenggarakan di Negara Perancis adalah sebuah lomba yang menggabungkan “technical skill downhill” yang tinggi & kemampuan “endurance” yang prima yang biasanya terbagi dalam beberapa stage lomba, perpaduan dari dua hal ini menjadikan sebuah genre baru yang sempurna dari olahraga Mountain bike.  Salah satu rider di stage-1 sebelum turun hujan Salah satu contoh adalah Jerome C...

BERSEPEDA SINGKAT Berkeringat di Track Hutan UI Depok

Sebuah trek bersepeda XC di dalam hutan kota Kampus Universitas Indonesia yang terletak di Depok Jawa Barat masih mempunyai lahan yang sangat luas, beberapa bagian bahkan masih berwujud hutan & semak belukar yang lumayan tinggi & lebat vegetasi pohonya. Berawal dari kreatifitas komunitas sepeda MTB sekitar kota Depok maka dibuat-lah jalur yang di kenal dengan 'Track Hutan UI' wujud dari jalur ini adalah sebagian besar kontur asli dari tanah hutan, tetapi beberapa bagian di buatkan 'obstacle' atau rintangan berkategori ringan yang sekelas sepeda XC. Pada bagian lain terdapat pula sebuah jalur yang di sebut jalur 'Mangkok' dan disinilah komunitas sepeda DJ: Dirt Jump bermain-main dengan sepedanya, letaknya tidak terlalu jauh dari jalan raya utama Kampus UI. Atraksi dari sepeda-sepeda DJ tiap minggu pagi disajikan disini dan inilah tempat yang paling ramai & banyak anak-anak muda yang bermain di jalur ini. Minggu pagi itu kami...

CIKOLE-CIPUNAGARA Tempat yang tepat bermain All Mountain Bike

Bersepeda di Bumi Parahyangan Bandung Pagi itu bukan main indahnya di lereng hutan pegunungan hutan “Cikole-Lembang-Bandung”. Matahari muda memuntahkan cahayanya yang kuning muda keemasan ke permukaan bumi, menghidupkan kembali rumput-rumput yang hampir lumpuh oleh embun, pohon-pohon yang lenyap ditelan kegelapan malam, bunga-bunga yang menderita semalam oleh hawa dingin menusuk. Cahaya kuning emas membawa kehangatan, keindahan, penghidupan mengusir halimun tebal dan halimun pun lari pergi dari raja cahaya kehidupan itu, meninggalkan butiran-butiran embun yang kini menjadi penghias ujung-ujungdaun dan rumput membuat bunga-bunga yang beraneka warna itu seperti dara-dara muda jelita sehabis mandi, segar, harum dan berseri-seri. Pemandangan indah dari atas bukit Cahaya yang lembut itu tertangkis oleh daun dan ranting pepohonan hutan yang rimbun, namun kelembutan cahaya itu dapat juga menerobos di antara celah-celah daun dan ranting sehingga sinar kecil memanjang yang...